Gonjang-Ganjing Perang Nuklir, Rusia Ancam Hancurkan AS

Russia's security council secretary Nikolai Patrushev delivers a speech at the IX Moscow conference on international security in Moscow on June 24, 2021. (Photo by Alexander Zemlianichenko / POOL / AFP) (Photo by ALEXANDER ZEMLIANICHENKO/POOL/AFP via Getty Images)

Ancaman kini muncul lagi dari Rusia ke Amerika Serikat (AS). Melansir Aljazeera, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia memperingatkan bahwa negaranya memiliki senjata untuk menghancurkan musuh mana pun, termasuk AS, jika keberadaannya sendiri terancam.

“Politisi Amerika yang terjebak oleh propaganda mereka sendiri,” kata Nikolai Patrushev dikutip Selasa (28/3/2023).

“Tetap yakin bahwa jika terjadi konflik langsung dengan Rusia, AS mampu meluncurkan serangan rudal preventif, setelah itu Rusia tidak dapat lagi merespons,” lanjutnya.

“Padahal, ini kebodohan yang picik dan sangat berbahaya.”

Ia mengatakan selama ini Rusia hanya sabar. Kremlin, tegasnya, tak mau terintimidasi.

“Rusia sabar dan tidak mengintimidasi siapa pun dengan keunggulan militernya, tetapi (memang) memiliki senjata modern dan unik yang mampu menghancurkan musuh mana pun, termasuk Amerika Serikat, jika ada ancaman terhadap keberadaannya,” tambah Patrushev lagi.

Hal sama juga dimuat Newsweek. Namun, tidak jelas ‘senjata unik modern’ apa yang mungkin dirujuk Patrushev dalam komentarnya.

Diketahui komentar Patrushev muncul setelah Putin mengumumkan bahwa Rusia akan mulai menyimpan senjata nuklir di Belarus. Ini adalah yang pertama kalinya dilakukan Rusia sejak 1990-an.

Putin mengklaim bahwa langkah itu sebagai tanggapan atas Inggris yang memasok Ukraina dengan peluru penembus lapis baja yang mengandung depleted uranium. Ia menyebut depleted uranium sebagai senjata dengan ‘komponen nuklir’ dan ‘eskalasi signifikan’.

Depleted uranium bisa menembus baja bahkan terkuat seperti tank AS sekalipun. Namun penggunaannya sangat kontroversial karena sangat beracun untuk wilayah setempat.

Sementara itu, retorika konfrontatif Rusia telah meningkat setelah serangan ke Ukraina tahun lalu. Konflik itu menyebabkan AS, dan sekutu Barat lainnya, menyediakan bantuan militer ke Ukraina dan berjanji untuk menegakkan perjanjian pertahanan mereka jika Rusia menyerang negara sekutu NATO.

Pejabat dan pakar Rusia, sebaliknya, telah berulang kali mengemukakan kemungkinan serangan terhadap AS jika Washington mengancam negara mereka dengan cara tertentu.

Perang Rusia-Ukraina dimulai saat pasukan Moskow menyerang Ukraina pada 24 Februari 2022 lalu. Putin beralasan bahwa serangan ini dilatarbelakangi niatan Kyiv untuk bergabung dengan NATO, yang menjadi salah satu ancaman bagi negaranya.

Selain itu, Putin berniat untuk mengambil wilayah Donetsk dan Luhansk yang sebelumnya dikendalikan Ukraina dan juga mempertahankan wilayah Krimea yang telah dianekasasi sejak 2014. Ini untuk membebaskan masyarakat etnis Rusia yang disebutnya mengalami persekusi dari kelompok ultra nasionalis Ukraina.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*