Harga Batu Bara Membara, 17 Sahamnya di RI Terbang

Industri pertambangan merupakan dunia kerja yang identik dengan karakter maskulin dan secara alamiah pekerjanya lebih cocok untuk kaum laki-laki. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Harga mayoritas saham emiten batu bara terpantau kembali menguat pada perdagangan sesi I Selasa (28/3/2023), di tengah menghijaunya kembali harga batu bara acuan dunia pada perdagangan kemarin.

Per pukul 09:24 WIB, dari 20 saham batu bara di RI, 17 saham menguat, satu saham cenderung stagnan, dan dua lainnya melemah.

Berikut pergerakan saham emiten batu bara pada perdagangan sesi I hari ini.

Saham Kode Saham Harga Terakhir Perubahan
Borneo Olah Sarana Sukses BOSS 71 7,58%
Indika Energy INDY 2.200 6,28%
Bumi Resources BUMI 133 3,10%
Adaro Minerals Indonesia ADMR 1.185 2,60%
ABM Investama ABMM 2.830 2,54%
Mitrabara Adiperdana MBAP 6.350 1,60%
Adaro Energy Indonesia ADRO 2.720 1,49%
Harum Energy HRUM 1.425 1,42%
Prima Andalan Mandiri MCOL 6.500 1,17%
Atlas Resources ARII 236 0,85%
Baramulti Suksessarana BSSR 4.020 0,75%
Golden Eagle Energy SMMT 700 0,72%
Delta Dunia Makmur DOID 306 0,66%
Bukit Asam PTBA 3.720 0,54%
Indo Tambangraya Megah ITMG 38.700 0,52%
TBS Energi Utama TOBA 494 0,41%
United Tractors UNTR 27.850 0,18%
MNC Energy Investment IATA 72 0,00%
Bayan Resources BYAN 19.175 -0,52%
Alfa Energi Investama FIRE 85 -1,16%

Sumber: RTI

Saham PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) kembali menjadi yang paling besar penguatannya pada perdagangan sesi I hari ini, yakni melejit 7,58% ke posisi harga Rp 71/saham.

Selanjutnya di posisi kedua, ada saham PT Indika Energy Tbk (INDY) yang melonjak 6,28% ke Rp 2.200/saham.

Sedangkan untuk saham raksasa batu bara, secara mayoritas juga menguat, di mana saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi yang terbesar setelah saham INDY, yakni melesat 3,1% ke Rp 133/saham.

Namun untuk saham raksasa batu bara dengan kapitalisasi pasar terjumbo di antara saham-saham batu bara lainnya yakni PT Bayan Resources Tbk (BYAN) terpantau kembali melemah 0,52% ke Rp 19.175/saham.

Harga batu bara masih membara. Pada perdagangan Senin kemarin, harga batu bara kontrak April di pasar ICE Newcastle ditutup di posisi US$ 195 per ton, melesat 1,38%.

Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 3 Maret 2023.

Penguatan kemarin juga memperpanjang tren positif harga batu bara yang menguat sejak Selasa pekan lalu. Dalam lima hari perdagangan terakhir, harga pasir hitam sudah ambruk 11,4%.

Kembali menguatnya harga batu bara ditopang oleh peningkatan permintaan dari India dan China serta merangkaknya harga gas. Bekurangnya produksi batu bara dari Indonesia juga ikut andil dalam kenaikan harga batu bara.

Kenaikan permintaan terutama datang dari India. Negari Taj Mahal tersebut tengah menyiapkan diri menghadapi musim panas pada April-Juni 2023.

Permintaan energi diperkirakan melonjak pada musim panas sejalan dengan meningkatnya penggunaan listrik untuk pendingin ruangan atau keperluan industri.

Kementerian India memperkirakan shortfall pada pasokan batu bara bisa mencapai 21 juta ton pada April-Juni karena lonjakan permintaan dan gangguan distribusi.

Selain India, China juga diperkirakan akan meningkatkan impor batu bara, terutama batu bara kokas. Kenaikan impor sejalan dengan mulai merangkaknya aktivitas industri baja di Tiongkok.

Sejumlah analis memperkirakan Purchasing Manager’s Index (PMI) China masih akan ekspansif pada Maret 2023 setelah melonjak ke 51,6 pada Februari 2023.

Harga batu bara juga naik mengikuti harga gas. Harga gas alam Eropa EU Dutch TTF (EUR) melonjak 3,5% sehari ke 42,53 euro per mega-watt hour (MWh) kemarin.

Batu bara adalah sumber energi alternatif bagi gas sehingga harganya saling terpengaruh. Kenaikan harga gas disebabkan oleh prakiraan suhu Eropa yang lebih dingin hingga akhir Maret.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*