IHSG Bergairah, 4 Saham Ini Jadi Penyebabnya

pembukaan bursa saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau menguat pada perdagangan sesi I Senin (28/3/2023), di tengah bangkitnya kembali saham-saham perbankan global meski saham perbankan di dalam negeri cenderung mendatar.

Per pukul 11:02 WIB, IHSG menguat 0,39% ke posisi 6.735,25. IHSG hingga hari ini masih bertahan di level psikologisnya di 6.700.

Secara sektoral, sektor energi memimpin penguatan yakni mencapai 1,88%, disusul sektor teknologi yang melesat 1,27%, dan sektor konsumer cyclical yang terapresiasi 1,04%.

Di lain sisi, setidaknya empat saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) menjadi penopang IHSG pada sesi I hari ini.

Berikut saham-saham yang membantu IHSG menguat.

Emiten Kode Saham Indeks Poin Harga Terakhir Perubahan Harga
Bank Rakyat Indonesia BBRI 3,67 4.780 0,84%
Kalbe Farma KLBF 3,47 2.170 3,33%
Bayan Resources BYAN 2,90 19.425 0,78%
Indocement Tunggal Prakarsa INTP 2,19 10.500 5,78%

Sumber: Refinitiv & RTI

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi penopang terbesar IHSG pada sesi I hari ini, yakni hingga mencapai 3,67 indeks poin.

Selain itu, ada saham emiten raksasa batu bara yakni PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang juga menjadi pendorong IHSG sebesar 2,9 indeks poin. Masih cerahnya harga batu bara menjadi sentimen positif bagi saham BYAN hari ini.

Meski saham perbankan global kembali pulih, tetapi saham perbankan di RI cenderung mendatar bahkan terkoreksi, karena beberapa saham bank terutama bank raksasa tengah memasuki periode pembagian dividen pada pekan ini.

Saham perbankan global kembali bangkit setelah sahamFirst Republic Bank sempat terbang melesat hingga puluhan persen, sebelum berakhir menguat 11,8%.

Tekanan terhadap perbankan kecil di AS sudah mulai mereda. Berdasarkan catatan CNBC International, penurunan deposit di bank kecil yang beralih ke bank besar sudah mulai menurun.

Selain itu, Lembaga simpan pinjam AS (Federal Deposit Insurance Corporation/FDIC) mengumumkan First Citizens BancShare Inc akan membeli simpanan dan pinjaman Silicon Valley Bank (SVB). Pengumuman ini dua minggu setelah kejatuhan SVB yang mengawali krisis perbankan AS.

Kesepakatan itu mencakup pembelian sekitar US$ 72 miliar atau sekitar Rp 1.019 triliun aset SVB dengan diskon sebesar US$ 16,5 miliar, tetapi sekitar US$ 90 miliar dalam bentuk sekuritas dan aset lainnya akan tetap dalam kurator untuk disposisi oleh FDIC.

Bahkan, pemulihan saham bank tidak hanya di AS, tetapi di Eropa juga demikian. Saham Deutsche Bank AG yang belakangan menjadi sorotan setelah merosot tajam berbalik melonjak 4,7%.

Meski demikian, banyak pelaku pasar dikatakan masih enggan masuk ke aset berisiko dan perbankan pada khususnya. Sebab, tekanan besar masih bisa datang.

Kemungkinan terjadi resesi di AS juga dikatakan semakin dekat pasca gonjang-ganjing sektor perbankan. Hal ini bahkan diungkapkan oleh Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari dalam wawancaranya dengan CBS.

“Ini jelas membawa kita semakin dekat (dengan resesi) saat ini, apa yang belum jelas bagi kami saat ini adalah seberapa banyak tekanan perbankan yang bisa membuat krisis kredit meluas. Kemudian, krisis kredit akan memperlambat perekonomian,” kata Kashkari sebegaimana dilansir CNBC International.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*