Israel-Palestina Kerap Bentrok di Bulan Puasa, Ini Alasannya!

Pasukan Israel menyerbu masjid Al Aqsa di Yerusalem untuk kedua kalinya, Rabu (5/4) malam waktu setempat, usai menangkap ratusan orang yang dianggap provokator. (AFP via Getty Images/AHMAD GHARABLI)

Masjid Al-Aqsa Palestina kembali menjadi sasaran keganasan polisi Israel. Situs tersuci ketiga umat Muslim dunia itu kerap menjadi tempat bentrok antara Israel dan Palestina

Yang terbaru, pada Rabu (5/4/2023) kemarin, polisi Israel melakukan serangan kepada masyarakat Palestina yang sedang melakukan ibadah Subuh. Hal ini memicu baku tembak roket dan serangan udara militer yang berakibat belasan warga Palestina mengalami luka-luka.

Lalu, kenapa serangan Israel kerap terjadi di Bulan Ramadan dan kenapa di Masjid Al-Aqsa?

Sebagaimana diketahui, Masjid Al-Aqsa pertama kali dibangun pada tahun 705 Masehi, masjid Al-Aqsa sering menjadi titik bentrok antara orang Palestina dan Yahudi.

Secara historis, peningkatan bentrokan di daerah itu terjadi sekitar bulan Ramadhan. Sebab, kawasan Plaza Gerbang Damascus menjadi lokasi yang kerap dipakai sebagai tempat berkumpul warga Palestina selama bulan ini.

Sejarahnya Israel khawatir, berkumpulnya warga Palestina itu akan menyebabkan masalah, sehingga mereka berusaha membubarkan kerumunan itu.

Melansir India Today, inti dari bentrokan Israel dan Palestina adalah upaya Israel untuk membatasi kegiatan masyarakat Palestina di Al-Aqsa, serta sengketa kepemilikan tanah di Sheikh Jarrah di Yerusalem.

Ini merupakan perselisihan yang dimulai sejak pembentukan Israel pada tahun 1948. Perselisihan tersebut memperoleh momentum besar ketika Israel memenangkan Perang Arab pertama.

Masjid berkubah perak itu merupakan tempat pemberontakan Palestina kedua yang dimulai pada September 2000.

Pemberontakan dilakukan setelah pemimpin oposisi Israel saat itu, Ariel Sharon menyerbu kompleks masjid dengan mengerahkan lebih dari 1.000 personel polisi bersenjata api.

Bentrokan memuncak di luar Kota Tua Yerusalem ketika puluhan ribu jamaah Muslim berdoa di Masjid Al-Aqsa pada malam suci Islam Laylat al-Qadr. Sekitar 80 orang terluka dalam bentrokan tersebut.

Pada 2015, bentrokan serupa terjadi di masjid antara pemuda Palestina dan pasukan Israel setelah berminggu-minggu ketegangan dan sejumlah konfrontasi di situs tersebut. Bentrokan itu terjadi beberapa jam sebelum dimulainya festival Yahudi Sukkot.

Religius dan mengandung sejarah

Mengutip The Print, Masjid Al-Aqsa adalah salah satu situs yang dianggap suci dalam Islam, setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid an-Nabawi. Kompleks Masjid Al-Aqsa memiliki luas sekitar 35 hektar yang biasanya disebut sebagai tempat suci, termasuk Kubah Batu.

Dibangun sekitar empat abad lalu, Al-Aqsa diterjemah kan dari bahasa Arab ke bahasa Inggris sebagai “Masjid Terjauh”. Menurut Alquran, diyakini bahwa Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Mekah ke Al-Aqsa dalam semalam lalu pergi ke surga.

Awalnya mesjid Al-Aqsa adalah sebuah rumah ibadah kecil, masjid ini dibangun kembali oleh khalifah Umayyah Abdul-Malik pada tahun 705 M. Sempat terhenti karena bencana gempa bumi, pembangunan kembali dilakukan pada tahun 746 dan disusul pada tahun 1033 banyak penambahan dilakukan oleh dinasti Kekhalifahan Islam yang berkuasa.

Setelah Perang Salib, masjid ini direbut kembali oleh Saladin, sultan Mesir dan Suriah pertama, pada tahun 1187. Masjid tersebut mengalami renovasi di bawah berbagai dinasti, termasuk kekaisaran Ottoman, Dewan Muslim Tertinggi, dan Yordania.

Wakaf adalah kepercayaan religius yang mengelola situs sejarah Islam di sekitar Temple Mount di Yerusalem.Meskipun Kota Tua Yerusalem berada di bawah kendali Israel, masjid tetap di bawah administrasi Wakaf Islam yang dipimpin Yordania dan Palestina sejak 1967.

Sementara tempat suci umat Yahudi, Temple Mount juga terletak di dalam kompleks yang sama. Kuil ini dibangun pada akhir abad pertama sebelum masehi, zaman Kuil Yahudi Kedua.

Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini dibangun di sekitar puncak Gunung Moria tempat Abraham mempersembahkan Ishak putranya sebagai korban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*