Tak Cuma Menteri Jokowi, Bos Startup Ikut Jawab Kritik Anies

Ilustrasi Pemilu 2024

– Anies Baswedan mengkritik kebijakan dan program kendaraan listrik yang tengah digencarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan, sampai menggelontorkan berbagai insentif dan subsidi.

Menurut Anies, subsidi itu tak tepat sasaran dan emisi yang dihasilkan mobil listrik justru lebih tinggi daripada emisi https://rtpdwslot88.org/ karbon bus berbahan bakar minya.

Alhasil, kritik Anies itu menuai ‘perlawanan’ dari para menteri Jokowi dan menjelaskan keuntungan yang bisa dinikmati RI dengan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Tak cuma anak buah Jokowi. Kritik Anies itu pun mengundang perhatian bos Nafas, startup yang fokus di bidang polusi udara.

Co-founder Nafas Piotr Jakubowski membeberkan data lengkap soal polusi udara di RI dan dampak dari elektrifikasi kendaraan bermotor.

Lewat akun Twitternya, Jakubowski mengaku terdorong untuk berbagi opini merespons kritik Anies soal mobil listrik.

Ia memaparkan data untuk menjawab tiga pertanyaan yang muncul dari wacana yang dilontarkan Anies.

Pertama, kontribusi kendaraan bermotor yang menggunakan BBM dan listrik ke polusi udara berdasarkan data yang dihimpun Nafas.

“Nafas today, [punya] real-time data [dari] 180+ sensor di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Bali dan kota lain,” katanya dikutip dari akun Twitternya, Sabtu (20/5/2023).

Chief Growth Office Nafas itu kemudian menjelaskan salah satu tipe polusi udara yang paling berbahaya di Indonesia adalah Particulate Matter 2.5, atau PM2.5.

PM2.5 berbahaya karena ukuran “debunya” sangat kecil sehingga bisa masuk ke paru-paru. Laporan Air Quality Life Index tahun 2021 bahkan menyatakan polusi udara menurunkan harapan hidup di Indonesia 7 tahun lebih rendah.

“Semua yang bisa dibakar dan yang mempunyai asap, memproduksi polusi PM2.5,” cetusnya.

Sumber polusi udara di Indonesia termasuk tetapi tidak terbatas pada pembangkit listrik, pabrik industri berat, alat transportasi, hingga pembakaran sampah di area perumahan. Karena strukturnya berupa partikel, jelasnya, sangat mahal dan sulit untuk mencari tahu secara pasti sumber polusi udara.

Sehingga, imbuh dia, satu-satunya cara mengurangi polusi udara adalah mengurangi semua aktivitas penghasil polusi udara.

Lalu, Jakubowski lanjut ke pertanyaan kedua yaitu “apakah statement Anies benar?”

Pernyataan Anies yang ia sorot adalah, “Solusi menghadapi masalah lingkungan hidup apalagi soal polusi udara bukanlah terletak di dalam subsidi untuk mobil listrik.”

Menurutnya, kendaraan listrik jelas punya emisi lebih rendah dibandingkan kendaraan bermesin cetus api bahkan dengan memperhitungkan batu bara sebagai sumber pasokan energi.

Ia kemudian memaparkan hasil perhitungan perbandingan emisi kendaraan listrik yang sudah dijual di Indonesia dibandingkan dengan kendaraan bensin, berdasarkan sumber pasokan listrik (batu bara, gas, dan kombinasi/CCGT).

Hyundai Ioniq, menurut perhitungannya, mengeluarkan 6-60 persen emisi lebih rendah, Mercedes EQS lebih rendah emisi 27-70 persen, sedangkan motor Alva One 51-80 persen lebih rendah emisi.

“Dengan transisi sumber daya kepada yang lebih ramah lingkungan, mobil listrik dengan cara otomatis jadi lebih ramah lingkungan juga. Intinya tidak harus upgrade lagi.”

Kemudian, dia membandingkan emisi kendaraan pribadi dan kendaraan umum di Jakarta berdasarkan jumlah. Menurut data Jakubowski, jumlah bus Transjakarta adalah 5.843 dibanding 3,7 juta unit mobil dan 17 juta unit sepeda motor.

“Kontribusi emisi polusi udara dari mobil sama motor jauh lebih tinggi daripada bus TransJakarta. Subsidi EV untuk kendaraan pribadi – motor dan mobil – bisa jauh lebih berpengaruh kepada pengurangan polusi udara dari sektor transportasi dibandingkan dengan [subsidi] kendaraan publik. It’s just a numbers game,” katanya.

Kemudian Jakubowski mencoba membahas kenapa pernyataan Anies jadi membuat bingung, terutama kalimat, “Emisi karbon mobil listrik per kapita per kilometer sesungguhnya lebih tinggi daripada emisi karbon bus berbahan bakar minyak.”

Menurutnya, perhitungan per penumpang membuat rancu.

“Untuk menjawab pertanyaan ‘untuk mengurangi polusi udara’, apakah lebih baik kasih subsidi ke EV kendaraan publik atau EV kendaraan pribadi?’,” tukasnya.

“Jelas. Jumlah kendaraan pribadi jauh lebih banyak dan jauh lebih berkontribusi kepada polusi udara. Sudah terbukti bahwa hampir semua daerah dekat kota besar terpapar polusi yang tinggi. Artinya, harus kita mendorong elektrifikasi kendaraan secepat mungkin,” pungkas Jakubowski.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*